Kamis, 21 April 2011

Hakekat Mutu Produk


Pada umumnya produk adalah apa saja yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan, termasuk di dalamnya adalah obyek fisik, jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan.
Dalam mengembangkan suatu produk perusahaan harus berpikir dalam tiga tingkat. Tingkat yang paling dasar adalah inti produk yang akan menjawab pertanyaan  “apa yang sebenarnya dibeli oleh seorang pembeli? Kedua bahwa perusahaan harus dapat mengubah inti produk menjadi suatu wujud produk. Wujud produk ini mempunyai lima karakter,yaitu mutu, ciri-ciri khas, model, merk, dan kemasan. Ketiga bahwa perusahaan harus menyempurnakan produk, dengan demikian perusahaan bisa membeli jasa dan manfaat tambahan pada produk, sehingga menjadi produk yang disempurnakan.       
Kotler mengemukakan ada 7 (tujuh) hirarki produk yang harus diperhatikan, yaitu :
1.    Kelompok kebutuhan merupakan kebutuhan inti yang nantinya akan membentuk kelompok produk, misalnya rasa aman.
2.    Kelompok produk, yaitu seluruh kelas produk yang dapat memuaskan suatu kebutuhan inti dengan tingkat efektivitas yang kurang lebih memandai, misalnya tabungan dan penghasilan.
3.    Kelas produk, yaitu sekumpulan produk di dalam sekelompok produk yang dianggap memiliki hubungan fungsional tertentu, misalnya instrumen keuangan.
4.    Lini produk, yaitu sekumpulan produk di dalam kelas produk yang berhubungan erat, karena fungsinya yang sama atau karena dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama, misalnya asuransi jiwa.
5.    Tipe produk, adalah barang atau hal yang berada daiam lini produk dan memiliki bentuk tertentu dari sekian banyak kemungkinan bentuk, misalnya asuransi jiwa berjangka.
6.    Merk, merupakan nama yang dapat dihubungkan dengan satu arah atau lebih barang atau hal yang berada dalam lini produk dan digunakan untuk mengenali sumber atau ciri barang tersebut, misalnya “Bumi Putera”.
7.    Jenis produk, merupakan sesuatu yang khusus dalam suatu merk atau lini produk yang dapat dibedakan dengan ukuran, harga, penampilan, atau atribut yang lain.


Selain hirarkhi di atas Kotler pun mengklasifikasikan produk ke dalam tiga kelompok berdasarkan daya tahan produk atau berwujud tidaknya produk, yaitu :
1.    Barang tidak tahan lama, merupakan barang berwujud yang biasanya dikonsumsikan satu atau beberapa kali. Misalnya sabun, garam, dan minuman ringan.
2.    Barang tahan lama, merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak kali pemakaian, misalnya lemari es, tekstil, mobil dan lain-lain.
3.    Jasa adalah kegiatan, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual, misalnya salon kecantikan, bengkel, kursus-kursus, dan lain-lain.


Setiap produk selalu memiliki atribut yang berwujud , seperti misalnya mutu produk yang termasuk realisasi konsep produk. Sesudah perusahaan mengenalkan produknya ke pasaran maka ia menghadapi setiap tantangan dalam siklus hidup produk.
Dalam proses pengembangan suatu produk perusahaan harus dapat menerapkan derajat mutu tertentu produknya, karena hal ini akan banyak mempengaruhi penampilannya di pasar. Mutu produk merupakan satu cara pokok dalam penempatan suatu produk lini adalah kemampuan yang bisa dinilai dari suatu merk produk untuk menjalankan gabungan dari daya tahan lama, keandalan, ketepatan, kemudahan pemeliharaan dan perbaikan segala atribut lainnya. Beberapa atribut dapat diukur secara subyektif, namun dari segi pemasaran, mutu harus diukur dari sudut penglihatan dan persepsi pembeli dari mutu produk itu sendiri.
Pada awalnya, kebanyakan perusahaan akan memasarkan produknya dengan satu derajat mutu dari empat tingkat, yaitu rendah, rata-rata, tinggi, dan istimewa. Dimana setiap tingkat ini akan mempengaruhi kepada keuntungan, dengan asumsi bahwa setiap peningkatan mutu akan meningkatkan keuntungan.
Untuk dapat mengendalikan mutu produk, dewasa ini dibuatlah suatu konsep yang dapat mengontrol atau menjadi standard untuk diterapkan di perusahaan. Konsep ini dikenal dengan nama Sistem Pengendalian Mutu Terpadu. Dengan mempergunakan sistem ini pengendalian mutu tidaklah hanya dilakukan oleh perusahaan tetapi dilakukan oleh organisasi di luar perusahaan yang sudah ditunjuk berdasarkan kesepakatan nasional atau internasional, juga dikontrol oleh konsumen itu sendiri.
Pengendalian mutu terpadu (Total Quality Control) adalah suatu sistem manajemen yang melibatkan seluruh tingkatan individu dalam suatu organisasi melalui penerapan konsep pengendalian kualitas dan metode-metode statistik untuk mencapai kepuasan pelanggan dan individu dalam organisasi.
Pengendalian mutu terpadu menangani konsep bahwa mutu akan tercapai secara ekonomis, efektif dan efisien, bila setiap proses produksi barang atau jasa, dapat memberikan jaminan mutu pada setiap pekerjaan yang merupakan masukan bagi proses-proses berikutnya. Untuk itu setiap pelaksanaan pekerjaan berpedoman pada sistem produktivitas yaitu bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Kepuasan pelanggan adalah sasaran utama TQC, karena langganan adalah urat nadi bagi kelangsungan hidup perusahaan. Kepuasan pelanggan akan tercapai apabila mutu setiap barang atau jasa, pelayanan atau penyerahan barang sesuai dengan keinginan pelanggan. Dengan kata lain pelanggan menilai mutu perusahaan dari setiap mutu produk barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan itu dan bagaimana mutu perusahaan diberikan. Kesemuanya itu bertujuan kepada peningkatan produktivitas secara optimal.
Beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli mengenai Total Quality Control atau pengendalian terpadu adalah :
a)    Menurut Arman V. Feigenbaum : Suatu sistem yang efektif untuk memadukan pengembangan mutu, dan upaya perbaikan mutu berbagai kelompok dalam sebuah organisasi agar pemasaran, perekayasaan, produksi dan jasa dapat berada tingkat yang paling ekonomis agar pelanggan mendapat kepuasan penuh.
b)   Menurut Kennet S. Stephen : Merupakan keseluruhan rangkaian terpadu (sistem) yang efektif guna melakukan pengembangan kualitas, menjaga dan meningkatkan mutu kerja, melalui usaha-usaha berbagai kelompok di dalam organisasi , sehingga memungkinkan untuk memproduksi barang atau jasa dengan sangat ekonomis, serta memberikan kepuasan kepada konsumen.
c)    Menurut Astra TQC : Adalah sistem manajemen yang mengikutsertakan seluruh jajaran pekerja dari semua tingkatan, dengan menerapkan konsepsi pengendalian kualitas dan metode statistik, untuk mendapatkan kepuasan pelanggan maupun karyawan.

Aspek keterpaduan dalam TQC yang nampak dari definisi di atas terarah kepada pemuasan pelanggan, yaitu segala usaha peningkatan, pelestarian dan pengembangan produk dan layanan dipadukan demi kepuasan pelanggan. Dapat dikatakan bahwa jiwa dari TQC adalah orientasi kepada konsumen atau hasrat untuk memuaskan pelanggan.
Dari definisi-definisi diberikan di atas maka dapat diketahui konsep dari TQC :
a.    Utamakan Kualitas atau Mutu
TQC merupakan suatu sistem, yang efektif guna melakukan peningkatan atau pelestarian kualitas karena TQC mencakup 5 macam kualitas adalah :
1.    Kualitas produk atas jasa itu sendiri (Quality).
2.    Kualitas kegiatan (Activity).
3.    Kualitas biaya-biaya yang terjadi (Cost).
4.    Kualitas ketetapan waktu dan cara penyampaian barang (Delivery).
5.    Kualitas keselamatan (Safety) serta moral atau semangat kerja individu yang terlibat.
Kualitas atau mutu suatu produk tidak dapat diabaikan lagi karena merupakan faktor utama diterima atau tidaknya suatu produk oleh pelanggan. Pelanggan tidak tahu apakah perusahaan apakah perusahaan telah beroperasi secara dalam memproduksi produknya, yang penting produk yang diberi dapat memuaskan keinginan.  

b.    Proses Berikut Adalah Pelanggan
Pelanggan tidak berarti hanya sebagai pemakai produk akhir dari perusahaan melainkan setiap tahap kegiatan produksi merupakan pelanggan bagi tahap sebelumnya. Setiap proses harus berusaha untuk mengungkapkan problem yang terjadi pada prosesnya dan berusaha untuk mengatasi memperkecil kerugian dari problem yang bersangkutan, sehingga tidak terjadi kesalahan pada proses berikutnya yang mengakibatkan inefesiensi dan mutu produk rendah.

c.    Pengendalian Berdasarkan Fakta
Pengendalian berdasarkan fakta mensyaratkan setiap keputusan dan tindakan yang diambil harus berdasarkan data yang nyata. Untuk menggunakan data yang tersedia maka dalam pengendalian mutu terpadu digunakan metode statistik.

d.    Pengendalian Proses
Perbedaan penting TQC dengan konsep pengendalian mutu sebelumnya adalah dilakukannya pengendalian mutu terhadap produk selama proses produksi berlangsung bukan pada produk akhir. Dengan pengendalian proses, kesalahan dapat dikurangi, sedangkan inspeksi tidak, karena inspeksi hanya terbatas memisahkan produk yang baik dan tidak terbaik. Sedangkan dalam pengendalian proses produksi agar hasil selalu baik, sehingga jika terjadi kesalahan dapat dilakukan perbaikan untuk mencegah terulangnya kembali kesalahan.
Pengendalian-pengendalian atau kontrol TQC adalah suatu proses yang terus menerus berlangsung dalam rangka mencapai kualitas dan produktivitas yang lebih baik dari sebelumnya atau dengan kata lain memutarkan daur PDCA (Plan-Do-Check-Action).
Secara umum tujuan penerapan TQC adalah untuk memberikan kepastian maksimal kepada pelanggan dan berproduksi secara ekonomis, yaitu dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perusahaan dari tingkat paling bawah sampai yang paling atas.
Dukungan itu akan diperoleh apabila terdapat kepuasan dari semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu sebagai sasaran dari penerapan TQC adalah :
a.    Membuat setiap unit dalam perusahaan mengerti kondisi mutu.
Memulai manajer tingkat atas, manajer penyelia, hingga orang-orang dijenjang paling bawah dalam organisasi harus ikut serta dalam fungsi pengendalian mutu.
b.    Membangun suatu bengkel yang kuat.
Agar terbentuk suatu bengkel yang kuat, maka pekerja pada lapisan bawah dari organisasi harus ikut serta dalam fungsi pengendalian. Disamping itu harus terdapat sikap saling menghormati dan kerja sama diantara pimpinan, operator dan pelaksana serta terdapat semangat kerja yang tinggi. 
c.    Membangun kondisi pengendalian ditingkat bengkel.
Yaitu terciptanya kondisi pengendalian dengan adanya ketaatan terhadap standardd-standardd yang telah ditentukan, mengambil langkah preventif dan konektif atas penyimpangan yang terjadi, jika perlu mengadakan perubahan standardd untuk penyempurnaannya.
d.    Perbaikan di tingkat bengkel.
Perbaikan hanya akan diperoleh apabila para pimpinan memberikan kesempatan kepada para pelaksana yang lebih mengetahui kondisi di bengkel menyebarkan informasi dan mengajukan saran-saran.
e.    Memperbaiki hubungan manusia.
Semangat juang merupakan hal yang penting dalam TQC, karena setiap orang harus bekerja keras, dengan suka rela untuk menyumbang pada perbaikan dan perkembangan perusahaan. Semangat juang ini dapat ditingkatkan melalui QC.
f.     Kegiatan sukarela.
Kesukarelaan merupakan faktor penting dalam TQC, karena setiap orang harus bekerja keras, dengan sukarela untuk menyumbang pada perbaikan dan perkembangan perusahaan. Semangat juang ini dapat ditingkatkan melalui QC.
g.    Kegiatan sukarela.
Kesukarelaan merupakan faktor penting dalam TQC karena adanya kesukarelaan untuk melakukan pekerjaan dengan senang hati dan tanpa paksaan.
h.    Memperluas cara berpikir.
TQC membuat setiap orang memandang perusahaan secara keseluruhan tidak hanya terbatas pada lingkungan tempatnya bekerja.
i.     Penghasilan yang lebih baik.
Dengan cara ini bekerja lebih baik maka unit perusahaan diharapkan terjadi peningkatan laba. Peningkatan penghasilan perusahaan akan digunakan pula untuk meningkatkan penghasilan karyawan.
j.     Berpikir dengan menggunakan kebijakan.
TQC tidak memandang bengkel dimana para karyawan bekerja sebagai sebuah mesin dan harus taat pada standard tanpa boleh mengemukakan saran. Tetapi ia akan membuat bengkel tersebut sebagai tempat untuk menggunakan pikiran dan kebijakan untuk bekerja.
Total Quality Control sebagai suatu sistem yang hanya dapat berhasil jika terdapat subsistem yang mendukung dengan sebaik-baiknya.
1.    Seluruh sumber daya manusia yang turut serta dalam proses produksi, baik tingkat manajemen puncak, manajemen menengah maupun para pelaksana, mengerti dan menghayati arti TQC dan melakukannya dalam proses prduksi maupun pekerjaan lain yang berkaitan.
2.    TQC sebagai totalitas pengendalian tentang mutu produk, secara bertahap atau berjenjang merupakan rangkaian dari suatu proses produksi yang menjadi tanggung jawab masing-masing kelompok kecil dalam suatu rangkaian yang terpadu dari QCC yang bekerja dalam suatu tim atau kelompok.
3.    TQC mata rantai dalam sistem tersebut dapat bekerja secara efektif dan efisien, baik disebabkan oleh latar belakang pendidikan dan pelatihan yang baik, maupun sasaran produksi yang baik menyangkut segi teknologinya, pengalaman kerja karyawan plus adanya sikap mental positif dari karyawan.
4.    Sikap mental positif tersebut adalah dengan bekerja produktif dalam suatu tim spirit yang kuat, akan menjamin mutu produksi yang tinggi, sumber imbal jasa yang lebih baik tenaga kerja, oleh karena adanya jaminan pasar yang luas serta menguntungkan bagi perusahaan.

_____________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.